Foto di Masjid Makassar Sulawesi Selatan

Foto di Masjid Makassar Sulawesi Selatan

Foto di Masjid Makassar Sulawesi Selatan

Diantaranya dalam izin dalam transaksi gadai. Kondisi ekonomi yang semakin sulit memaksa andi untuk mengadaikan sepeda miliknya kepada temannya yang bernama Taufiq. Terpaksa jalan ini ia tempuh setelah ia merasa putus asa mencari pinjaman modal usaha. Semenjak sepedanya di gadaikan pada Taufiq, Andi merasa kesulitan untuk pergi kerja. Karena itu, ia memberanikan diri untuk meminta izin kepada Taufiq untuk di perbolehkannya meminjam sepeda sehari saja. Terdorong rasa iba, Taufiq pun mempersilahkannya. Tanpa diduga, sepeda tersebut hilang saat berada di Kontraktor Kubah Masjid. Dari kasus tersebut sesuai dengan Imam al-Suyuthi, sebagaimana disetujui oleh al-Zarkasyih, Syaikh Yasin al-Fadani, dan beberapa ulama lainnya, menetapkan bahwa transaksi tersebut menjadi batal (infisakh), namun Andi sebagai penggadai (rahin) tidak dibebani sama sekali ganti rugi kepada Taufiq. Sebab, kerusakan motor merupakan akibat dari izin dari Taufiq selaku penerima gadai (murthahin). Yang dapat diambil dari contoh di atas adalah mencari hubungan antara tidak adanya kewajiban membayar ganti rugi (dhoman) dengan rusaknya transaksi gadai. Sehingga sesuai pesan kaedah yang ada di Kontraktor Kubah Masjid bisa kita pahami, bahwa kehilangan motor merupakan dampak (al-mutawallad) dari perbuatan Andi yang mendapat izin (al-muā€™dzun fih), sehingga mestinya ketentuan yang di terapkan adalah tidak ada berdampaknya kehilangan terhadap Andi. Namun, ketetapan yang diberlakukan adalah batalnya transaksi.

Pada dasarnya, transaksi gadai (rahn) dapat disebut transaksi final (luzum) jika barang gadainya (marhun) telah berada di tangan penerima gadai. Setelah transaksi disepakati kedua belah pihak (luzum), maka tidak dibenarkan membatalkan transaksi tersebut. Jika setelah itu, adanya Kontraktor Kubah Masjid tanpa sepengetahuan penerima gadai, penggadai melakukan sesuatu terhadap barang gadai yang berakibat hilangnya hak milik atas barang tersebut, seperti hilang, diwakofkan, disedekahkan dan lain sebagainya, maka maka transaksi menjadi batal dan harus ada ganti rugi. Dalam contoh sebelumnya, kerusakan tersebut tentu jadi batalnya transaksi gadai. Meskipun begitu, mungkin karena berada di Kontraktor Kubah Masjid karena kerusakan disebabkan oleh perbuatan yang telah mendapat restu dari Taufiq (penerima gadai), maka Andi tidak di haruskan menanggung ganti rugi, meskipun transaksinya menjadi batal (infisakh) dengan sendirinya.

Dalam konteks serupa, dapat kita temukan contoh mudah dalam penggadaian hewan ternak, seperti sapi. Jika setelah transaksi berlangsung pihak penggadai memanfaatkan sapi tersebut untuk membajakmsawah atas seizin penerima gadai ini berada di Kontraktor Kubah Masjid, lalu sapi tersebut mati karna digunakan bekerja, maka transaksi menjadi batal dan pihak penggadai tidak harus membayar ganti rugi, karena ia telah mendapat izin dari penerima gadai Menurut kamus besar bahasa Indonesia, rela artinya bersedia dengan ikhlas hati, izin (persetujuan), perkenan, dapat diterima dengan senang hati, dan tidak mengharap imbalan, dengan kehendak atau kemauan sendiri. Sedangkan konsekuensi artinya akibat (dari suatu perbuatan, pendirian, dan sebagainya), dan persesuaian dengan yang dahulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *