Kisah Menyingkirkan Sifat Pengecut dalam Diri Manusia

Setelah memasukkan pedangnya ke warangka, Umar bin Khathab mengikatkan senjata itu di pinggang. Sebuah busur panah ia selendangkan di punggung. Di tangan kirinya tergenggam sebuah anak panah runcing dan tajam. Di tangan kanannya ia memegang tongkat yang ukurannya cukup panjang.

Karena itu, beberapa penegak dakwah yang saat ini ada diatas panggung, jangan pernah tiarap. Terkecuali juga akan buat umat bingung, mereka akan dicatat histori jadi pengecut yang tidak layak diteladani generasi selanjutnya. Bahkan juga, dapat jadi dalil pembenaran pada dekade selanjutnya. Berikut yang di kuatirkan Imam Ahmad kenapa ia tetaplah bersikukuh pada gagasannya.

Akan tetapi, keberanian saja tidak cukup. Beberapa penegak dakwah mesti dapat bermain cantik serta taktis. Mungkin saja diantara kita, ada yang memperbandingkan pindah Umar bin Khathab dengan Rasulullah saw. Kenapa Umar berhijrah dengan terang-terangan sembari menantang golongan kafir tanpa ada rasa takut sedikit juga, sedang Rasulullah saw berhijrah dengan sembunyi-sembunyi? Apakah Umar lebih berani dari pada Nabi?

Jawabannya, Umar tidak sama juga dengan Rasulullah saw. Apa yang dikerjakan Umar yaitu aksi pribadi, tidak jadi hujjah syar’iyah. la bisa pilih satu diantara cara-cara, fasilitas serta style yang sesuai sama kemampuannya. Berlainan dengan Rasulullah saw. Beliau yaitu orang yang bertugas menerangkan syariat serta melakukannya. Kalau Rasulullah saw melakukan tindakan seperti Umar, pasti golongan muslimin menduga aksi itu harus, serta tidak bisa ambil aksi hati-hati serta bersembunyi saat dalam bahaya. Walau sebenarnya, Allah menegakkan syariat-Nya berdasar pada tuntutan sebab serta karena. Karena itu, Rasulullah saw memakai semuanya fasilitas yang dengan rasional pas serta sesuai sama perbuatannya.

Beliau memohon Ali bin Abi Thalib untuk tidur ditempat tidumya memakai selimut Rasulullah saw untuk mengelabui musuh yang tengah mengepungnya. Beliau juga bersembunyi di gua Tsur yang dengan geografis berlawanan letaknya dengan arah yang ditujunya supaya tidak gampang diketemukan lawan. Beliau juga mengutus Asma binti Abu Bakar. Terkecuali untuk memonitor kondisi musuh, Asma juga bertugas mensuplai makanan buat Rasulullah saw serta Abu Bakar. Hingga, sepanjang tiga hari ada di gua Tsur mereka tidak kelaparan.

Rasulullah saw lakukan itu bukanlah karena takut juga akan tertangkap lawan. Buktinya, meskipun sudah mengerahkan semua usaha, bila tidak karna pertolongan Allah, Rasulullah saw serta Abu Bakar nyaris bisa diketemukan oleh beberapa pengejarnya. Demikian dekatnya musuh, hingga Abu Bakar sempat menceritakan, “Kalau mereka lihat ke bawah, pastinya akan lihat kami. ”

Bahkan juga, waIaupun sudah menyewa seseorang penunjuk jaIan, Suraqah bin Malik berhasil menguber mereka. Bila tidak mukjizat dari Allah, bisa saja Rasulullah saw serta Abu Bakar juga akan tertangkap. Karena itu, waspada yaitu suatu hal yang perlu dipunyai sesudah keberanian. Sesudah semuanya usaha itu dikerjakan, baru pertolongan Allah akan tiba.

Pada akhirnya, hadapi beragam propaganda musuh yang selalu berjalan, tidak buat nyali kita ciut lantas melempem serta daftarkan diri jadi orang pengecut. Keberanian seperti yang ditampakkan Umar dalam cerita diatas semestinya dipunyai golongan muslimin, terutama juru dakwah. Todongan serta tudingan yang kadang waktu kita cemaskan.kuatirkan juga akan meneror keselamatan, tidak jadikan kita surut dalam mengambil langkah.

Akan tetapi, kecerdikan serta kehati-hatian jadi hal yang harus dipunyai golongan muslimin. Mengambil langkah dengan berani serta penuh kewaspadaan, tersebut yang juga akan mengantarkan kita menjemput kemenangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *