Tentang Mereka yang Kini Menikmati Masa Semester Tua

Kadang keresahan yang dirasakan mahasiswa yang menginjak semester tua bukan melulu soal kapan bisa memakai topi toga. Kadang kegelisahan yang dialami mereka bukan selalu tentang kata “kapan”. Kapan judul keluar? kapan seminar proposal? kapan yudisium? kapan wisuda? atau kapan nikah?*. Ups.

Ada yang lebih merisaukan hati mahasiswa semester tua.

Mereka lebih takut meninggalkan masa jadi mahasiswa, dari pada menunggu hari wisuda. Kebiasaan jadi mahasiswa buat seorang demikian nikmati masa muda.

Sehari-hari melakukan kebiasaan pergi ke universitas serta lihat senyuman meriah rekan-rekan. Tak tahu dalam situasi diskusi di kelas, rapat organisasi, atau sebatas makan di kantin. Walau seringkali pekerjaan serta agenda rapat demikian padat, namun semuanya kebiasaan itu merasa bahagia untuk ditempuh.

Baca Juga: Contoh proposal penelitian

Ada pada fase mahasiswa semester tua sering buat seorang sadar begitu berharganya saat yang masih tetap tersisa sebelumnya hari pernikahan datang. **Ups, hari wisuda datang, tujuannya. Waktu-waktu yang tersisa mungkin saja tidak banyak, namun mereka senantiasa menginginkan menikmatinya serta lakukan beberapa hal bernilai yang belum juga pernah mereka kerjakan sepanjang menyandang status mahasiswa. Mereka sadar rekan-rekan yang ada di sekitar mulai repot dengan revisi serta riset semasing. Mulai tidak sering tersisa saat untuk berjumpa. Mereka mesti merelakan kebiasaan makan dengan untuk mengatur revisi, pergi ke perpustakaan, atau berjumpa dosen pembimbing. Mereka tahu semasing mesti selekasnya pergi. Pergi ke dunia riil serta meninggalkan dunia universitas yang dipenuhi dengan sejuta mimpi. Juga pergi untuk menggenapkan 1/2 dien semasing. *Eaa.

Mereka sama-sama mengerti ada amanah yang perlu selekasnya ditempuh.

Merampungkan studi dengan sebaik-baiknya. Ini bermakna menyegerakan wisuda. Bagaimanapun orangtua senantiasa bangga bila anaknya lulus pas saat, atau sebelumnya saatnya. Tidak mungkin saja katakan ke orangtua, lulusnya kelak saja. Masih tetap menginginkan nikmati masa jadi mahasiswa. Masih tetap menginginkan nikmati kebiasaan yang merasa bahagia untuk ditempuh. Mereka tidak mungkin saja memaksakan ego pribadi. Sesaat orang-tua yang memikul “spp semester tua”.

Masa jadi mahasiswa semester tua merasa demikian bernilai. Sesudah masa jadi “mahasiswa baru” berlalu bak debu yang tertiup angin, mereka mulai bernostalgia mengenai masa kemarin. Semester untuk semester yang merasa berlalu demikian cepat. Ada rasa sesal, sedih, bahagia serta senang yang menyelimuti hati saat kembali kenang masa jadi mahasiswa.

Tidak merasa saat ini mereka ada pada saat penghujung studi. Pertanyaan untuk pertanyaan yang keluar, terkadang merasa sulit untuk dijawab walau pengetahuan mereka makin tinggi bersamaan menambahnya semester.

kapan lulus?

kapan wisuda?

kapan serta kapan yang beda sekali lagi. Merekapun cuma tersenyum simpul hadapi ceriwisnya pertanyaan itu. Karna ada yang lebih menggalaukan hati di banding pertanyaan-pertanyaan yang cuma terbagi dalam dua kata itu. Adalah pertanyaan dalam hati mereka sendiri, yang semakin hari menyodok mengenai kerisauan mengenai masa-masa sesudah melepas status mahasiswa serta Kegelisahan perpisahan dengan rekan seperjuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *